
TIKETQQ - Pimpinan Pondok Pesantren Attolibiyah, Mobok Karsih, Bumijawa, Tegal, heran karena salah seorang santrinya, Ahmad Sulaiman (19), tidak berada di pesantren selama kurang lebih sebulan. Pihak pesantren berpikir Ahmad pulang ke rumah.
Namun, pihak pondok pun akhirnya mendatangi rumah orang tua Ahmad tak jauh dari pondok pesantren.
Orang tua Ahmad Sulaiman juga heran dengan kedatangan utusan pondok ketika mereka menanyakan keberadaan Ahmad. Orang tuanya berpikir Ahmad sedang di pondok.
Dia ternyata mendaki Gunung Slamet sebulan lalu.
Setelah dilakukan investigasi, muncul pengakuan dari tiga orang teman Ahmad.
Ketiganya adalah Muhammad Imam As’ari, Muhammad Jefri Trimulyana dan Ahmad Fadil Izulhaq pada tanggal 25 Desember.
Mereka mengaku kalau sebulan sebelumnya, tepatnya pada 21 November.
Empat santri Pesantren Attolibiyah ini melalui jalur pendakian Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga.
Mereka masuk begitu saja dan tidak izin mendaki kepada petugas pendakian Pos Bambangan.
BANDARQ - Entah apa alasannya mereka turun waktu itu. Namun sampai di Pos 7, mereka tersesat dan tidak menemukan jalur kembali. Karena kelelahan dan sudah kemalaman, mereka lalu tidur di sana.
Di pagi harinya, tepatnya pada pukul 06.30 WIB, mereka tidak melihat Ahmad Sulaiman. Dengan tenaga yang tersisa mereka mencarinya namun tak ketemu juga. Mereka bertiga lalu turun namun konyolnya tidak mencari pertolongan. Kronologis kejadian yang mereka gambarkan tak begitu jelas. Ada banyak pertanyaan yang mengganjal. Benar saja, mayat Ahmad Sulaiman ditemukan tak jauh dari anakan Sungai Pelus, Gunung Slamet.
Banyak sekali pertanyaan atas kejadian ini yang belum terjawab.
Kejadian ini menunjukkan bahwa karakter seseorang bisa terlihat aslinya saat melakukan pendakian. Ajaklah teman yang betul-betul akan menolongmu jika suatu saat terjadi kesulitan.
Untuk Ahmad Sulaiman, semoga kamu tenang di atas sana dan maafkanlah teman-temanmu itu. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang kembali di kemudian hari.
Namun, pihak pondok pun akhirnya mendatangi rumah orang tua Ahmad tak jauh dari pondok pesantren.
Orang tua Ahmad Sulaiman juga heran dengan kedatangan utusan pondok ketika mereka menanyakan keberadaan Ahmad. Orang tuanya berpikir Ahmad sedang di pondok.
Dia ternyata mendaki Gunung Slamet sebulan lalu.
Setelah dilakukan investigasi, muncul pengakuan dari tiga orang teman Ahmad.

Ketiganya adalah Muhammad Imam As’ari, Muhammad Jefri Trimulyana dan Ahmad Fadil Izulhaq pada tanggal 25 Desember.
Mereka mengaku kalau sebulan sebelumnya, tepatnya pada 21 November.
Empat santri Pesantren Attolibiyah ini melalui jalur pendakian Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga.
Mereka masuk begitu saja dan tidak izin mendaki kepada petugas pendakian Pos Bambangan.
BANDARQ - Entah apa alasannya mereka turun waktu itu. Namun sampai di Pos 7, mereka tersesat dan tidak menemukan jalur kembali. Karena kelelahan dan sudah kemalaman, mereka lalu tidur di sana.
Di pagi harinya, tepatnya pada pukul 06.30 WIB, mereka tidak melihat Ahmad Sulaiman. Dengan tenaga yang tersisa mereka mencarinya namun tak ketemu juga. Mereka bertiga lalu turun namun konyolnya tidak mencari pertolongan. Kronologis kejadian yang mereka gambarkan tak begitu jelas. Ada banyak pertanyaan yang mengganjal. Benar saja, mayat Ahmad Sulaiman ditemukan tak jauh dari anakan Sungai Pelus, Gunung Slamet.
Banyak sekali pertanyaan atas kejadian ini yang belum terjawab.
Kejadian ini menunjukkan bahwa karakter seseorang bisa terlihat aslinya saat melakukan pendakian. Ajaklah teman yang betul-betul akan menolongmu jika suatu saat terjadi kesulitan.
Untuk Ahmad Sulaiman, semoga kamu tenang di atas sana dan maafkanlah teman-temanmu itu. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang kembali di kemudian hari.

Komentar
Posting Komentar